Yangon,
Ribuan biksu kembali melakukan aksi protes dengan turun ke jalan-jalan
di Myanmar. Mereka menentang rencana keberadaan Organisasi Konferensi
Islam (OKI) di negeri itu untuk membantu muslim Rohingya.
Sekitar 3 ribu biksu mengikuti aksi demo ini sembari berteriak-teriak dan membawa banner bertuliskan "Tak Ada OKI". Massa menyusuri jalan menuju pusat ibukota Yangon.
Menurut pihak penyelenggara demo seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (15/10/2012), aksi protes ini digelar di dua kota utama Myanmar, yakni di kota Mandalay dan kota Pakokku di wilayah Magway, Myanmar pusat.
"Kami tak bisa menerima adanya kantor OKI di sini," cetus Oattamathara, biksu yang memimpin aksi protes di Mandalay.
Dikatakannya para demonstran, ingin mendapat jaminan tegas dari pemerintah bahwa OKI yang beranggotakan 57 negara muslim tak akan diizinkan beroperasi di negeri tersebut.
Ketegangan sektarian di Myanmar meningkat menyusul bentrokan antara warga Buddha dan Rohingya di negara bagian Rakhine pada Juni lalu. Puluhan orang tewas dalam insiden itu dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal mereka.
Sejak peristiwa itu, para biksu telah menggelar serangkaian aksi protes menentang OKI dan keberadaan Rohingya di Myanmar. Sekitar 800 ribu warga Rohingya diperkirakan berada di Myanmar namun mereka tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintahnya. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut muslim Rohingya sebagai minoritas paling teraniaya di dunia.
Sekitar 3 ribu biksu mengikuti aksi demo ini sembari berteriak-teriak dan membawa banner bertuliskan "Tak Ada OKI". Massa menyusuri jalan menuju pusat ibukota Yangon.
Menurut pihak penyelenggara demo seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (15/10/2012), aksi protes ini digelar di dua kota utama Myanmar, yakni di kota Mandalay dan kota Pakokku di wilayah Magway, Myanmar pusat.
"Kami tak bisa menerima adanya kantor OKI di sini," cetus Oattamathara, biksu yang memimpin aksi protes di Mandalay.
Dikatakannya para demonstran, ingin mendapat jaminan tegas dari pemerintah bahwa OKI yang beranggotakan 57 negara muslim tak akan diizinkan beroperasi di negeri tersebut.
Ketegangan sektarian di Myanmar meningkat menyusul bentrokan antara warga Buddha dan Rohingya di negara bagian Rakhine pada Juni lalu. Puluhan orang tewas dalam insiden itu dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal mereka.
Sejak peristiwa itu, para biksu telah menggelar serangkaian aksi protes menentang OKI dan keberadaan Rohingya di Myanmar. Sekitar 800 ribu warga Rohingya diperkirakan berada di Myanmar namun mereka tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintahnya. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut muslim Rohingya sebagai minoritas paling teraniaya di dunia.
01.55
Unknown



0 komentar:
Posting Komentar